BeritaDaerahKomunitasNasionalSosialTerkiniUtama

Andri Susanto Bethan, Putra Daerah Kutai Timur yang Siap Dorong Pertumbuhan Ekonomi Rakyat Melalui Migas.

237
×

Andri Susanto Bethan, Putra Daerah Kutai Timur yang Siap Dorong Pertumbuhan Ekonomi Rakyat Melalui Migas.

Sebarkan artikel ini
Andri Susanto Bethan, Putra Kelahiran Desa Sangkulirang- Kutai Timur, Siap Dorong Pertumbuhan Ekonomi Rakyat Melalui Migas. (Foto : tamankata.id/ Primus. A)

Kalimantan Timur – “Gagal merancang berarti merancang kegagalan.” Kalimat itu meluncur tegas dari bibir Andri Susanto Bethan, pria kelahiran Sangkulirang, Kutai Timur, yang kini bertekad mengguncang peta energi Kalimantan Timur.

Bukan pejabat, bukan konglomerat. Andri, sapaan akrabnya. Ia datang dari lapangan dengan aroma kopi pahit dan panas terik di atas tanah gersang sumur-sumur minyak tua yang nyaris dilupakan. Sejak 2019, ia blusukan dari beberapa kabupaten dan kota seperti Kutim, Samarinda, Kukar hingga Kubar. Denga mendata satu per satu sumur yang pernah berjaya, namun kini sunyi.

“Kalau kita diam, sumur-sumur tua itu akan mati. Padahal di dalamnya ada peluang hidup untuk ribuan orang,” terangnya dengan penuh semangat saat dihubungi awak media via seluler pada Senin 18 Agustus 2025.

Tak hanya bicara soal minyak, ditengah geliat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan hiruk pikuk industri energi di Kalimantan Timur, sebuah potensi lama kembali mencuat. Bukan tambang batu bara, bukan pula ladang migas raksasa. Melainkan sumur-sumur tua yang sudah lama terabaikan.

“Soal kesejahteraan rakyat, kita ingin koperasi lokal dan UMKM menjadi motor pengelolaan sumur-sumur tua. Agar hasilnya tidak lagi hanya mengalir ke kas perusahaan besar, tapi juga ke meja makan warga,” tutur Andri.

Andri juga mengungkapkan fakta mengejutkan. Ia melaporkan, bahwa di Samarinda terdapat sekitar 40 sumur tua yang masih menyimpan harapan. Baginya, sumur-sumur itu bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan pintu masuk menuju kebangkitan ekonomi baru.

“Ternyata di Samarinda saja sudah ada potensi yang bisa kita langsung eksekusi. Saya sudah berbicara dengan beberapa tokoh dan pemilik lahan, dan jumlahnya sekitar 40 sumur,” kata Andri.

Menurutnya, lokasi sumur-sumur tersebut sudah terpetakan. Namun, ia sadar, langkah besar ini tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Kaltim.

“Tinggal menyiapkan koordinat teknis, langkah eksekusi bisa segera dilakukan. Semua pergerakan harus tertata dan terkelola. Saya siap jadi garda depan untuk Kaltim,” ujarnya penuh keyakinan.

Kemudian ia menyebutkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025 adalah pintu gerbang perubahan. Namun ia sadar, tanpa payung hukum daerah mimpinya akan kandas. Karena itu, ia akan mendorong pembahasan bersama Gubernur dan Wakil Gubernur untuk melahirkan Peraturan Gubernur sebagai senjata hukum.

“Saya harap bisa dipanggil gubernur untuk memastikan semua ini. Karna, dengan adanya peraturan gubernur, prosesnya bisa lebih cepat dan langsung dieksekusi. Targetnya jelas, peningkatan PAD Kaltim,” ungkapnya.

Bagi Andri, sumur tua adalah simbol perjuangan: sesuatu yang nyaris dilupakan, tapi masih menyimpan daya hidup luar biasa. Jika digarap serius, selain mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD), potensi ini juga bisa menciptakan lapangan kerja baru, menggerakkan ekonomi lokal, dan menjadi bukti bahwa Kaltim bisa berdiri tegak dengan sumber daya sendiri.

“Kini, bola ada di tangan pemerintah. Apakah sumur-sumur tua ini akan kembali hidup sebagai sumber harapan baru, atau terus terkubur dalam diam, hanya menjadi catatan sejarah yang terlupakan?”tutupnya. (*RA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *